Sabtu, 24 September 2011

BLANGKON


Filosofi Blangkon


Blangkon adalah tutup kepala yang terbuat dari batik dan digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional Jawa. Setiap daerah mempunyai jenis blangkon yang berbeda. Blangkon Yogya dan Blangkon Surakarta/Solo mempunyai perbedaan pada bagian belakangnya, Pada blangkon Yogya terdapat ‘modolan’, sedangkan blangkon solo bagian belakangnya pipih/rata. Hal ini tentu mempunyai filosofi masing-masing, berikut adalah filosofi dari kedua jenis blangkon.

1. Blangkon Yogya

Blangkon yogya mempunyai mondolan, hal ini dikarenakan pada waktu itu, awalnya laki-laki Jogja memelihara rambut panjang kemudian diikat keatas (seperti Patih Gajah Mada) kemudian ikatan rambut disebut gelungan kemudian dibungkus dan diikat, lalu berkembang menjadi blangkon.
Kemudian menjadikan salah satu filosofi masyarakat jawa yang pandai menyimpan rahasia, tidak suka membuka aib orang lain atau diri sendiri karena ia akan serapat mungkin dan dalam bertutur kata dan bertingkah laku penuh dengan kiasan dan bahasa halus, sehingga menjadikan mereka selalu berhati-hati tetapi bukan berarti berbasa-basi, akan tetapi sebagai bukti keluhuran budi pekerti orang jawa. Dia pandai menyimpan rahasia dan menutupi aib, dia akan berusaha tersenyum dan tertawa walaupun hatinya menangis, yang ada dalam pikirannya hanyalah bagai mana bisa berbuat yang terbaik demi sesama walaupun mengorbankan dirinya sendiri.

2. Blangkon Solo

waktu itu lebih dulu mengenal cukur rambut karena pengaruh belanda, dan karena pengaruh belanda tersebut mereka mengenal jas yang bernama beskap yang berasal dari beschaafd yang berarti civilized atau berkebudayaan.
Tidak adanya tonjolan hanya diikatkan jadi satu dengat mengikatkan dua pucuk helai di kanan dan kirinya, yang mengartikan bahwa untuk menyatukan satu tujuan dalam pemikiran yang lurus adalah dua kalimat syahadat yang harus melekat erat dalam pikiran orang jawa.
Secara keseluruhan penempatan blangkon dikepala merupakan anjuran agar segala pemikiran yang dihasilkan dari kepala tersebut selalu membawa nilai-nilai keislaman. Dalam artian sebebas apapun pemikiran yang dihasilkan oleh otak, agama islam selalu menjadi mainstream. Jadi, segala pemikirannya akan berguna bagi orang banyak, tidak malah menyengsarakan. Juga berguna bagi seluruh alam sebagaimana islam yang rahmatan lil’alamin.
Makna filosofi blangkon yang kedua yaitu blangkon sebagai simbol pertemuan antara jagad alit (mikrokosmos) dengan jagad gede (makrokosmos).
Blangkon merupakan isyarat jagad gede karena nilai-nilai transendentalnya. Sedangkan kepala yang ditumpanginya merupakan isyarat jagad alit. Ini terkait dengan tugas manusia sebagai khalifatullah fi al-ardi yang membutuhkan kekuatan Tuhan. Karena itu, agar manusia mampu melaksanakan tugasnya dibutuhkan kekuatan Tuhan yang disimbolkan dengan blangkon. Setelah manusia mendapat kekuatan tersebut, resmilah ia sebagai khalifatullah fi al-ardi yang tugasnya mengurus alam sesisinya.
Maka tak heran jika zaman dahulu orang-orang Jawa banyak yang memakai blangkon karena mereka sadar bahwa mereka selain sebagai hamba Tuhan juga merupakan khalifah di bumi.
Berikut adalah perbedaan bentuk dan filosofi blangkon Jogja dan blangkon Solo


Minggu, 21 Agustus 2011

MERDEKA dari BELENGGU KEMISKINAN

Kemiskinan Dalam Kemerdekaan

Oleh: H.S. Dillon
  Senin, 17 Agustus 2009 17:00 WIB

Merdeka bagi Bung Karno adalah political independence atau politieke onafhankelijkheid. Akan tetapi, menyadari bahwa diperlukan perjalanan panjang guna mewujudkan ‘Pernyataan' kemerdekaan politik menjadi sebuah ‘Kenyataan'  kehidupan Bangsa, Proklamator mengibaratkan "merdeka" atau "kemerdekaan" itu sebagai sebuah jembatan emas. Dalam bahasa yang lebih lugas Bung Karno menggambarkan proses yang harus dilalui dalam perjalanan panjang tersebut: "Di dalam Indonesia Merdeka itulah kita memerdekakan rakyat kita! Di dalam Indonesia Merdeka itulah kita memerdekakan hatinya bangsa kita!" (Sukarno, 1 Juni 1945)

Pernyataan terakhir ini merefleksikan kesadaran Pendiri Republik mengenai kisah tragik kehidupan rakyat yang terjajah selama 350 tahun sebagai korban nafsu akumulasi kolonialisme dan imperialisme. Oleh karenanya, pernyataan memerdekakan rakyat dan memerdekakan hatinya bangsa itu mengandung makna dan sekaligus kewajiban memerdekakan segenap kehidupan rakyat Indonesia baik secara jasmani maupun rohani, termasuk dari belenggu rendah-diri seperti inlander. Anak kalimat pada alenia pertama Pembukaan UUD 1945 yang berbunyi: "..... maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan", semakin menegaskan bahwa tidak tersedia ruang bagi kelompok yang mewarisi nafsu akumulasi kolonialisme dalam tubuh bangsa Indonesia merdeka.

Sedari awal perjalanan Republik, sudah diupayakan meningkatkan posisi tawar para buruh-tani dan meredistribukan lahan kepada petani gurem, dengan membentuk Komite Agraria pada tahun 1948.  Akan tetapi, kendati aset penjajah sempat dinasionalisasi, kelompok penikmat ketimpangan berhasil menghalangi implementasi UU Pokok Bagi Hasil dan UU Pokok Agraria.  Puluhan tahun kemudian, terkesan bahwa Presiden Suharto menyadari kesenjangan yang timbul sebagai akibat fundamentalisme pasar.  Beliau mengumpulkan konglomerat di peternakan Tapos, dan mencoba menyakinkan mereka bahwa keadilan ekonomi akan lebih menjamin kesinambungan pembangunan. Akan tetapi, Frankenstein Konglomerat, yang menjadi kaya-raya semata-mata akibat berkolusi dengan  pejabat Orde Baru, berhasil menggagalkan prakarsa penciptanya meredistribusikan 15 persen saham mereka kepada para buruh dan staffnya.  

Bagaimana potret kehidupan rakyat dan bangsa Indonesia memasuki usia kemerdekaannya yang ke-64 tahun ini? Kendati selalu muncul angka yang menghibur, tetapi secara kasat mata kemiskinan masih terus saja melekat dalam kehidupan anak Bangsa, seperti para petani gurem, buruh tani, buruh pabrik, buruh nelayan, nelayan gurem, PKL, pengangguran, dan kaum terpinggirkan lainnya. Belum lagi banyaknya tersiar kisah nestapa seperti ayah yang menggendong jenazah bayinya kesana kemari, tiada kuasa menyewa sejengkal tanah untuk mengembalikan jasad bayi suci kepangkuan Ibu Pertiwi. Sementara itu, kegemerlapan kehidupan sekelompok warga Bangsa yang dirasuki nafsu akumulasi dan konsumsi berlomba-lomba menyaingi rekan sejawatnya di manca negara.  Adegan seperti ini bukan saja menyilau kota-kota besar, tetapi disajikan keseluruh pelosok nusantara oleh media massa. Sukar untuk menampik tudingan bahwa perbuatan dan pembiaran kita turut melanggengkan ketidak-adilan dan kemiskinan. Padahal, pada tahun 2001 seorang pakar menaksir bahwa hanya 5 persen dari pendapatan 20 persen kelompok warga-negara  terkaya kita sudah akan cukup untuk menghapus kemiskinan di nusantara. 

Kendati masa transisi pasca pengorbanan mahasiswa mengakhiri kekuasaan otoriter secara simbolis dijuluki ‘reformasi', tetapi masih belum juga timbul kesadaran bahwa realitas kemiskinan sebagian besar rakyat itu merupakan akibat ketidak-adilan dari sistem yang melingkarinya selama ini. Sekitar 160 juta rakyat, atau 80 persen dari keseluruhan rakyat Indonesia masih hidup di perdesaan. Turun-temurun mereka terpaksa berjuang mempertahankan hidup menghadapi berbagai matra ketidak-adilan sosial. Tidaklah mengherankan manakala lebih dari 70 per sen warga miskin berada diperdesaan, dan lapisan bawah di perkotaan ditempati mereka yang tergusur derita dari perdesaan.

Kesimpulan ini diperkuat oleh catatan jurnalis harian termuka ibukota, Ahmad Arif, yang menyusun laporan ekspedisi Jalan Raya Pos, 200 Tahun Pengisapan sekitar setahun yang lalu:
Dalam tulisan Peter Boomgaard (Children of the Colonial State, Amsterdam, 1989), citra Jawa awal abad ke-19 adalah kemiskinan dan kemandekan. Pulau ini dihuni jutaan petani yang harus hidup dari petak-petak tanah kecil dan jutaan kuli yang berusaha untuk bisa hidup di perkotaan yang padat penduduknya. Dua ratus tahun kemudian, gambaran suram itu ternyata tak beranjak pergi.

Pelajaran yang sepantasnya ditarik dari kenyataan getir ‘Kemiskinan dalam Kemerdekaan' ini adalah   perlunya kita meninggalkan paradigma pembangunan tidak-manusiawi trickle-down. Paradigma ini menghalalkan disitanya sebahagian besar hasil pembangunan oleh mereka yang sudah mapan, dengan hanya sebahagian kecil yang ‘diteteskan' kepada majoritas rakyat.  Ini hanya mungkin berlangsung dalam keadaan rakyat tidak berdaya; dengan perkataan lain, kemiskinan rakyat kita itu bersifat struktural, ditandai oleh penyebaran kekayaan dan kekuasaan yang sangat tidak merata!

Sudah saatnya menggunakan paradigma pembangunan yang mengutamakan pemerataan dan keadilan sosial, sebagaimana yang selalu saya sebut dengan paradigma People-driven Development, atauPembangunan yang Diarahkan Rakyat. Strategi pembangunan dengan sendirinya menjadi pertumbuhan-melalui-pemerataan, atau growth through equity. Untuk mengoperasionalkan strategi ini menanggulangi semua matra kemiskinan, dibutuhkan pendayagunaan secara sinergis empat perangkat kebijakan, yaitu modal, jangkauan, penghasilan, dan suara (assets, access, income, and voice). Dalam kaitan ini Reforma Agraria, terutama redistribusi tanah bagi rakyat dan memperluas jangkauan terhadap kredit, merupakan landaasn kokoh upaya meningkatkan pendapatan dan memperkuat suara rakyat yang selama ini dibungkam.

Terbentuknya keseimbangun baru pemilikan kekayaan dan kekuasaan  politik dalam masyarakat, akan dapat sekaligus memperkokoh kewarga-negaraan.  Dengan memperkuat peran-serta dalam proses pengambilan keputusan yang bertalian dengan masa depannya secara bersama, diharapkan warga-negara akan mampu membangun kohesi sosial dan meraih legitimasi politis guna mengalahkan kelompok kepentingan. Warga-negara yang semakin berdaya akan menjadi kekuatan-utama mendorong transformasi yang dibutuhkan untuk memutuskan pewarisan kemiskinan, sebagai prasyarat terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat.

Pilihannya sudah jelas, tidak ada jalan tengah! Apakah melanjutkan budaya membohongi diri dengan terus menafikan bahwa ‘Kenyataan' yang dihadapi rakyat yang sudah turn-temurun terus miskin barulah ‘Pribumisasi Penjajahan', atau mengetuk nurani bertekad sungguh-sungguh memenuhi janji ‘Bagimu Negeri, Jiwa-Raga Kami'?  Mendengarkan nurani akan menuntun kita menaklukkan nafsu akumulasi dan konsumsi, melintasi segala perbedaan guna bersama-sama mengerahkan seluruh daya dan dana untuk membantu upaya saudara-saudara kita merebut kemerdekaan seutuhnya dari belenggu kemiskinan. Sejarah perjalanan Bangsa akan mencatat pilihan kita.


HS Dillon,
Kepala Badan Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Nasional, 2001

Kamis, 04 Agustus 2011

SUKA BOHONG...!!!!


Lawak nih... MAS BROW,percakapan yang sangat lucu

Cewek: Mas kerja dimana?
Cowok: Saya pemilik beberapa hotel di Jakarta dan Bali.
Cewek: (woow konglomerat nih !!) Mas tinggal dimana?
Cowok: Di pondok indah golf view.
Cewek: (woow kereeen.. perumahan orang2 “the have”) Pasti gede rumahnya ya?
Cowok: Cuma 3000 m2
Cewek: Mas pasti mobilnya banyak ya?
Cowok: Cuma 5, ferrari, audi, mercy, bmw sama range rover.

Cewek: (ini cowo idamanku !!) Mas punya istri?
Cowok: Belum…
Cewek: (wah enak juga jadi bini nya) Mas merokok?
Cowok: Tidak.
Cewek: (Wah sehat nih) Mas suka minuman keras?
Cowok: Tidak
Cewek: (wow cool) Mas suka judi?
Cowok: Tidak.
Cewek: (wah halal nih rejekinya) Mas suka main perempuan tau dugem gitu?
Cowok: Tidak.
Cewek: (sholeh banget nih cowo) Hobbinya mas apa?
Cowok: bo’oooooong.



Ck.ck.ckc..wkw.wkw..wkwkwkwk

Jumat, 29 Juli 2011

MENEBAR MANFAAT UNTUK SESAMA 4132 H نشر فوائد للشعب

ALL Sahabat FB ,bloger,Twiter yg Budiman ...



Sy bukanlah Manusia yg SEMPURNA, ( pasti sdh tahu ) juga bukan yang SELALU BENAR,di SETIAP LANGKAH,UCAPAN TULISAN.

BIARPUN HIDUPKU TAK SEINDAH 
PELANGI,tp saya Bahagia,bersyukur bisa terlahir NORMAL,sekalipun dari KELUARGA biasa,biasa saja & WALAUPUN ADA YANG NGGAK MENYUKAI SAYA namun TAK SEDIKITPUN, saya  membenci semua,


TAKDIR MANUSIA TAK ADA TANG TAHU,SAYA INGIN SMU MEMBACA TULISAN INI,JUGA BISA MEMAAFKAN SGALA KEKURANGAN KESALAHAN SY BAIK YG SENGAJA ATAU / TIDAK
" SELAMAT MENYAMBUT BULAN SUCI RAMADAHAN...MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN "

BAGI YANG MENJALANKAN

saking Harto sekeluarga

Minggu, 24 Juli 2011

" CIRI CIRI-CIRI WANITA SUKA SELINGKUH.....!!!! " ????MENURUT KITAB PRIMBUN

Dalam kitab Primbon yang menerangkan katuranggan manusia berdasarkan bentuk atau ciri fisik yang berkaitan dengan watak serta perilaku yang bersangkutan,banyak sekali perihal yang menjelaskan tentang katuranggan manusia berdasarkan hitungan hari lahir serta tahun kelahiran,benar atau tidaknya semua yang di sebutkan dalam hal bentuk tubuh atau ciri fisik yang berkaitan dengan watak serta kehidupan seseorang,tentu perlu kajian lebih dalam,namun para tetua jaman dahulu tidak akan mungkin asal tebak tentunya sudah mengadakan riset yang kala itu dengan cara olah batin serta mempelajarinya bertahun-tahun.

Menurut keterangan Primbon tentang katuranggan wanita yang suka selingkuh atau kawin cerai ada beberapa criteria sebagai berikut :

1. Pada tengah-tengah jidatnya sedikit nonong,telinga menghadap agak kedepan,matanya terlihat seperti Habis bangun tidur,tipe wanita demikian biasanya suka berselingkuh atau kawin cerai hingga tiga kali.

2. Raut wajahnya sedikit memerah, tepian atas mata dan bawah berwarna hitam. Hidung bagian atasnya Ada garis-garis kecil, wanita demikian tidak punya rasa cinta terhadap suami,tetapi suka sekali berselingkuh pada lelaki yang lebih tua dari suaminya.

3. Jika tertawa tertunduk kepalanya,bicaranya ketus,kalau bicara lidahnya keluar di jilatkan ke mulut,wanita demikian bangga sekali jika gonta-ganti pria, ia sama sekali tak punya rasa malu untuk urusan kawin cerai sepanjang hidupnya.

4. Kulit raut wajah tampak sedikit kehijau-hijauan,dari ujung hidung sampai jidat tampak urat kebiru-biru biruan ,mata ciut gelap suka berkedip,wanita jenis ini gampang sekali jatuh cinta bahkan jika sudah jatuh cinta maka tanpa perasaan bisa mencelakakan suaminya.

5. Mata besar dan lebar bak mata ikan mas,Hati-hati terhadap tipe wanita ini ,dengan perselingkuhannya yang tak pernah puas dengan berbagai jenis pria,sehingga berdampak kematian lebih dulu bagi suaminya.

6. Kedua pipinya tembem gembil,suaranya seperti laki-laki,wanita tipe ini sekalipun biasa menjalani perselingkuhan dengan pria yang lebih muda,ia gemar melakukan kawin cerai.

7. Jidatnya nonong sekali namun hanya tengahnya jidat, lancip daun telinganya dan mungil berbalik menghadap kedepan ,wanita ciri demikian suka sekali menikmati perselingkuhan dan terus saja berkeinginan kawin cerai demi mendapatkan kepuasan birahinya.





sumber : ATM ( amati tiru Modifikasi dari :http://nagapasha.blogspot.com

ciri-wanita-suka-selingkuh-menurut.html


Jumat, 17 Juni 2011

POSITIF & NEGATIF FACEBOOKCHOLIC....!!!


Sokaraja ,Purwokerto,17 Juni 20011

 Sebagai...salah satu Bahan Bacaan di Akhir Pekan siapa tahu ada manfaat yang di dapat...!!!!

PERHATIAN...!!!!
Dan ketikan ini bukan bermaksud menggurui,Melarang,,,dan,,,APALAGI MELECEHKAN...!!!

 “ BEBERAPA DAMPAK NEGAIF FESBUKAN….!!! “ FACEBOOKCHOLIC

PASTI…. Sudah…nih..sudah bukan   Mungkin lagi  tapi Pasti..lho sudah sering Mendengar ,Membaca,baik di INTERNET atau Lihat via TELEVISI,Baca Di Koran dll,Tapi Begitu juga Dampak POSITIFnya..namun Kecenderungan adalah dari Sisi Negatif yang sering kita Dengar ,Lihat,Baca karena faktor kita Sendiri…!!!


Kalu ada Ungkapan “ MULUT Mu adalah HARIMAU MU…kali in..
Lentik Jari Manismu..adalah…Mulutmu…bingung tho..!!!
Saya sendiri Bingung..tapi baiklah …nggak perlu ambil atau nyari…Kompas…untuk sekedar cari Penunjuk Arah.


Kelemahan atau Karakter orang yang suka fesbuk-fesbukan. Dan juga katanya sih, orang yang sering fesbukan itu…

#1. Orang kurang kerjaan, atau kurang produktif. “Hello, lagi ngapain nih?”


#2. Orang yang suka iseng daripada bengong sendirian. “Langit gelap, bintang lagi pada ngumpet. Enaknya ngapain ya…”.


#3. Orang kesepian. “Bete nih! Cape!” Dan senang banget kalo ada yang ngomentarin, “Sabar… sabar… sabar… Emangnya bete kenafa?”


#4. Orang yang tak mau disebut kurang gaul, katrok, ndeso, kuno, kalau tidak kenal fesbuk-fesbukan.

#5. Orang yang kurang menghargai waktu dan suka lupa waktu. Mending baca buku, buka kitab suci, diskusi dengan guru agama, atau membereskan kamar tidur yang berantakan !

#6. Orang yang minta diperhatikan, dan kurang kasih sayang. Seminggu, bisa empat hari nangkring dan update status. Bahkan sehari bisa lebih dari 5 jam!

#7. Orang yang buang-buang waktu, energi, pulsa, dan uang. Kalau diarahkan untuk buat fiksi, syair lagu, buat buku non fiksi, atau bertanya pada seorang pakar, kan jadi lain jadinya !

#8. Orang yang acapkali menjauhkan yang dekat, dan mendekatkan yang jauh. Saat ketemu atau pergi bersama, sering sibuk sendiri dan jarang sekali menatap langsung dengan orang yang diajak bicara karena sibuk fesbuk-fesbukan. Ia lebih mementingkan memberikan respon orang yang jauh di seberang pulau atau di belahan benua lain, daripada respek dengan orang yang berada dekat dengan dia yang tengah berbicara dengannya. Tentu, sering nyebelin kalau begini!

#9. Orang yang suka pamer. Pamer yang tak layak atau tak pantas dipamerkan. Ya itu, suka pamer keluh kesah. ”Bangun tidur, badan ini lemes sekali rasanya.. Pengennya bolos kerja deh hari ini..”.


#10. Orang yang seneng iseng, dan tak jarang sedikit guyon melecehkan. Maksud hati ingin mengakrabkan, apa daya belum tentu orang yang diseberang moodnya lagi sama, normal dan merespon guyonannya. Kalau dia tersinggung, gimana?

#11. Orang yang mencari pelampiasan atas ketidakberhasilannya membangun hubungan yang berkualitas dan mendalam. Sapa sana, sapa sini. Semua disapa. Levelnya hanya teman, rekan dan rekanan. Tak ada yang berkategori sahabat, atau sahabat dekat.

#12. Orang yang senang menyapa dengan ringan namun kurang mampu memberikan perhatian yang mendalam. ”Kemana ajha khamu itcju. Koq sudah lama dikau tak bertkichauw…!!” @ Twitter…


#13. Orang produk jaman sekarang yang gengsi kalau tak mengenal fesbuk atau tak sering-sering update status fesbuk.

Belum lagi ada Cerai,di Culik,Di Pecat dari Perusahaan juga Sekolahnya  karena Status Statusmya.dan cerita lainya yang berdampak Negatif ( tadinya Pertemanan terus di Blokir Pertemananya...ada Cerita Nikah ,,,laki laki  sama Wanita tp maaf Jenis kelaminya nggak tahunya sama yaitu PRIA juga ketahuan setelah enam bulan )...sudah pokonya banyak...lah...yang negatif negatif,,,!!!


Memang sih Ukuran Penting Nggak Penting ,Perlu nggak Perlu masing masing Individu itu beda-beda…nggak ada Standar Bakunya..ya..baiklah…kembali…ke..APA yang Anda PIKIRKAN..Bebas- Bebas saja ( Lap Top ..Lap saya.,Pulsa-Pulsa saya ..yang nanggung semua resiko juga saya ) bisa jadi..lho..ada yang dalam hatinya Menggerutu begitu..please…Monggo…lho..!!!


Nah, sekarang tantangannya adalah bagaimana kalau fesbuk itu :
  1. Hanya untuk mengisi luang waktu saja
  2. Hanya untuk mencari sahabat lama saja
  3. Untuk mengenalkan kembali seseorang yang dulu pernah kita kenali, kita akrabi, dan kini nyaris terlupakan.
  4. Hanya untuk menjalin dan menjaga silaturahmi dan kontak seperlunya saja
  5. Hanya untuk berbagi peluang dan kesempatan saja
  6. Hanya dipakai bila semua hak keluarga sudah terpenuhi semuanya dan kewajiban kita telah dipenuhi sesuai waktu untuk-NYA, untuk keluarga kita, untuk pekerjaan kita, dan untuk diri kita sendiri
  7. Kita pakai untuk promosi, karir dan bisnis kita
  8. Tidak mengusik dan mengganggu privacy orang lain
  9. Untuk mendapatkan ide, saran, masukan, dan gagasan atas pekerjaan atau proyek yang belum kita kuasai kompetensinya.
  10. Untuk mendapatkan dukungan atas program yang baik dan saling menguntungkan. Baik itu gerakan sosial, maupun gerakan penyadaran akan pentingnya mempertahankan atau memperjuangkan sesuatu yang mulia, luhur dan bermanfaat bagi masyarakat luas.
  11. Untuk mengenalkan pentingnya kita merintis dan memutuskan untuk memulai sesuatu yang baru dan bermanfaat bagi kita kemudian.
  12. Untuk transaksi perdagangan dan perniagaan secara syariah, bermartabat dan bermanfaat untuk kedua belah pihak
  13. Untuk saling belajar lebih mendalam secara real-time via chatting dan video (conference)
Pada akhirnya, fenomena kegilaan zaman pada jejaring sosial, apa pun namanya, keputusan akhirnya ada pada diri kita. Jejaring sosial on-line adalah sebuah alat, sebuah media. Diri kitalah yang menjadi sutradaranya. Mau dibuat bagus, biasa, atau tanpa sadar kita jadi terlena karenanya…
Semua pilihan itu ada pada diri kita !
Pilihan yang mendekatkan kita ke Syurga atau Neraka; ke ridho-Nya dan azab-Nya; ke Rahmat, Kasih dan Sayang-Nya atau benci-Nya; semua ada pada pilihan, hati, pikiran, dan ketikan di ujung-ujung jemari nan Lentik manis kita.kurang lebihnya mohon maaf,,,untuk semua...

Salam Hormat Selalu ,Sukses ALL THE BEST.dan terima kasih....!!


Sumber dari : Agung MSG’S WebLog &  sebagian
di ATM ( AMATI TIRU MODIFKASI ) by Suharto