Selasa, 25 Oktober 2011
Kamis, 20 Oktober 2011
CaRa MeLaTiH OtAk KaNaN....Semoga Bermanfaat...!!!
Eight game
Pura-puralah menulis angka delapan tidur atau simbol ? di udara dengan tangan kiri dan kanan secara bersama-sama. Permainan sederhana ini bertujuan untuk menyeimbangkan syaraf motorik kiri dan syaraf motorik kanan. Cobalah dan teruskanlah permainan ini setelah sarapan, selama dua menit setiap hari.
Thumb game
Acungkanlah jempol tangan kiri dan kelingking tangan kanan, sambil menyorongkan kedua belah tangan ke arah kanan. Sebaliknya, acungkanlah jempol tangan kanan dan kelingking tangan kiri, sambil menyorongkan kedua belah tangan ke arah kiri. Permainan sederhana ini bertujuan untuk menyeimbangkan syaraf motorik kiri dan syaraf motorik kanan. Cobalah dan teruskanlah permainan ini bersama teman-teman setelah makan siang, selama dua menit setiap hari.
Pattern game
Gambarlah pola-pola tertentu di atas kertas kosong, dengan tangan kiri dan kanan secara bersama-sama, ke arah dalam, luar, atas, dan bawah. Selain bertujuan untuk menyeimbangkan syaraf motorik kiri dan syaraf motorik kanan, permainan unik ini juga dapat menggali potensi visual. Cobalah permainan ini selama dua menit setiap hari, minimal 14 hari berturut-turut.
Specific crawl
Gerakkan tangan kanan serentak dengan kaki kiri. Kemudian balaslah, gerakkan tangan kiri serentak dengan kaki kanan. Idealnya, siku tangan menyentuh lutut. Iringi pula dengan lagu favorit. Selain bertujuan untuk menyeimbangkan syaraf motorik kiri dan syaraf motorik kanan, gerakan ini juga dapat membuat pikiran terbuka terhadap hal-hal yang baru. Cobalah gerakan ini secara 10 menit setiap hari, minimal 14 hari berturut-turut.
Specific posturing
Bertumpulah di lantai dengan lutut kiri dan tangan kanan. Sementara itu, kaki kanan diluruskan ke belakang dan tangan kiri diluruskan ke depan. Posisi ini bertujuan untuk mengaktifkan syaraf-syaraf tertentu secara umum dan otak kanan secara khusus. Cobalah posisi ini selama 10 menit setiap hari, minimal 14 hari berturut-turut.
Specific relaxing
Tips ini khusus anak-anak. Pertahankan posisi relaksasi setengah tengkurap. Biasakan pula posisi ini ketika anak tidur. Semakin dini, semakin baik. Biasakan pula posisi ini ketika anak sakit, sambil dipeluk oleh orang tua. Dengan demikian, otak anak berada dalam frekuensi alpha dan anak akan merasa damai karenanya.
Rotated reading
Balikkan sebuah tulisan (atas bawah), lalu bacalah tulisan tersebut dari kanan ke kiri. Cobalah dan teruskanlah kebiasaan baru ini selama 2 menit setiap hari.
Left-handed foreplay
Tips yang boleh juga disebut Kamasutra ini khusus untuk lelaki yang telah menikah. Cumbulah pasangan Anda dengan menggunakan tangan kiri. (Bagi Anda yang belum menikah, jangan khawatir, Anda tetap bisa melakukannya. Caranya? Menikahlah dulu.)
Left-handed handling
Peganglah gagang pintu dan bukalah pintu dengan tangan kiri. Cobalah dan teruskanlah kebiasaan baru ini setiap hari.
Left-handed brushing
Gosoklah gigi dengan tangan kiri pada pagi hari. Untuk sore atau malam hari, tetaplah menggosok gigi dengan tangan kanan. Cobalah dan teruskanlah kebiasaan baru ini setiap hari
.
Left-handed writing
Tulislah nama panggilan Anda dengan tangan kiri di atas kertas kosong. Cobalah kebiasaan baru ini minimal 10 kali sehari, minimal selama 14 hari berturut-turut. Niscaya Anda akan menemukan keajaiban, di mana pada hari ke-3 Anda dapat menulisnya dengan sangat mudah.
Left-handed signing
Buatlah tanda tangan Anda dengan tangan kiri di atas sehelai kertas kosong. Cobalah kebiasaan baru ini minimal 10 kali sehari, minimal selama 14 hari berturut-turut. Niscaya Anda akan menemukan keajaiban, di mana 2 dari 10 tanda tangan tersebut menyerupai bentuk aslinya.
Purwokerto,20 Oktober 2011
Sabtu, 24 September 2011
BLANGKON
Filosofi Blangkon
Blangkon adalah tutup kepala yang terbuat dari batik dan digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional Jawa. Setiap daerah mempunyai jenis blangkon yang berbeda. Blangkon Yogya dan Blangkon Surakarta/Solo mempunyai perbedaan pada bagian belakangnya, Pada blangkon Yogya terdapat ‘modolan’, sedangkan blangkon solo bagian belakangnya pipih/rata. Hal ini tentu mempunyai filosofi masing-masing, berikut adalah filosofi dari kedua jenis blangkon.
1. Blangkon Yogya

Blangkon yogya mempunyai mondolan, hal ini dikarenakan pada waktu itu, awalnya laki-laki Jogja memelihara rambut panjang kemudian diikat keatas (seperti Patih Gajah Mada) kemudian ikatan rambut disebut gelungan kemudian dibungkus dan diikat, lalu berkembang menjadi blangkon.
Kemudian menjadikan salah satu filosofi masyarakat jawa yang pandai menyimpan rahasia, tidak suka membuka aib orang lain atau diri sendiri karena ia akan serapat mungkin dan dalam bertutur kata dan bertingkah laku penuh dengan kiasan dan bahasa halus, sehingga menjadikan mereka selalu berhati-hati tetapi bukan berarti berbasa-basi, akan tetapi sebagai bukti keluhuran budi pekerti orang jawa. Dia pandai menyimpan rahasia dan menutupi aib, dia akan berusaha tersenyum dan tertawa walaupun hatinya menangis, yang ada dalam pikirannya hanyalah bagai mana bisa berbuat yang terbaik demi sesama walaupun mengorbankan dirinya sendiri.
2. Blangkon Solo

waktu itu lebih dulu mengenal cukur rambut karena pengaruh belanda, dan karena pengaruh belanda tersebut mereka mengenal jas yang bernama beskap yang berasal dari beschaafd yang berarti civilized atau berkebudayaan.
Tidak adanya tonjolan hanya diikatkan jadi satu dengat mengikatkan dua pucuk helai di kanan dan kirinya, yang mengartikan bahwa untuk menyatukan satu tujuan dalam pemikiran yang lurus adalah dua kalimat syahadat yang harus melekat erat dalam pikiran orang jawa.
Secara keseluruhan penempatan blangkon dikepala merupakan anjuran agar segala pemikiran yang dihasilkan dari kepala tersebut selalu membawa nilai-nilai keislaman. Dalam artian sebebas apapun pemikiran yang dihasilkan oleh otak, agama islam selalu menjadi mainstream. Jadi, segala pemikirannya akan berguna bagi orang banyak, tidak malah menyengsarakan. Juga berguna bagi seluruh alam sebagaimana islam yang rahmatan lil’alamin.
Makna filosofi blangkon yang kedua yaitu blangkon sebagai simbol pertemuan antara jagad alit (mikrokosmos) dengan jagad gede (makrokosmos).
Blangkon merupakan isyarat jagad gede karena nilai-nilai transendentalnya. Sedangkan kepala yang ditumpanginya merupakan isyarat jagad alit. Ini terkait dengan tugas manusia sebagai khalifatullah fi al-ardi yang membutuhkan kekuatan Tuhan. Karena itu, agar manusia mampu melaksanakan tugasnya dibutuhkan kekuatan Tuhan yang disimbolkan dengan blangkon. Setelah manusia mendapat kekuatan tersebut, resmilah ia sebagai khalifatullah fi al-ardi yang tugasnya mengurus alam sesisinya.
Maka tak heran jika zaman dahulu orang-orang Jawa banyak yang memakai blangkon karena mereka sadar bahwa mereka selain sebagai hamba Tuhan juga merupakan khalifah di bumi.
Berikut adalah perbedaan bentuk dan filosofi blangkon Jogja dan blangkon Solo
1. Blangkon Yogya
Blangkon yogya mempunyai mondolan, hal ini dikarenakan pada waktu itu, awalnya laki-laki Jogja memelihara rambut panjang kemudian diikat keatas (seperti Patih Gajah Mada) kemudian ikatan rambut disebut gelungan kemudian dibungkus dan diikat, lalu berkembang menjadi blangkon.
Kemudian menjadikan salah satu filosofi masyarakat jawa yang pandai menyimpan rahasia, tidak suka membuka aib orang lain atau diri sendiri karena ia akan serapat mungkin dan dalam bertutur kata dan bertingkah laku penuh dengan kiasan dan bahasa halus, sehingga menjadikan mereka selalu berhati-hati tetapi bukan berarti berbasa-basi, akan tetapi sebagai bukti keluhuran budi pekerti orang jawa. Dia pandai menyimpan rahasia dan menutupi aib, dia akan berusaha tersenyum dan tertawa walaupun hatinya menangis, yang ada dalam pikirannya hanyalah bagai mana bisa berbuat yang terbaik demi sesama walaupun mengorbankan dirinya sendiri.
2. Blangkon Solo
waktu itu lebih dulu mengenal cukur rambut karena pengaruh belanda, dan karena pengaruh belanda tersebut mereka mengenal jas yang bernama beskap yang berasal dari beschaafd yang berarti civilized atau berkebudayaan.
Tidak adanya tonjolan hanya diikatkan jadi satu dengat mengikatkan dua pucuk helai di kanan dan kirinya, yang mengartikan bahwa untuk menyatukan satu tujuan dalam pemikiran yang lurus adalah dua kalimat syahadat yang harus melekat erat dalam pikiran orang jawa.
Secara keseluruhan penempatan blangkon dikepala merupakan anjuran agar segala pemikiran yang dihasilkan dari kepala tersebut selalu membawa nilai-nilai keislaman. Dalam artian sebebas apapun pemikiran yang dihasilkan oleh otak, agama islam selalu menjadi mainstream. Jadi, segala pemikirannya akan berguna bagi orang banyak, tidak malah menyengsarakan. Juga berguna bagi seluruh alam sebagaimana islam yang rahmatan lil’alamin.
Makna filosofi blangkon yang kedua yaitu blangkon sebagai simbol pertemuan antara jagad alit (mikrokosmos) dengan jagad gede (makrokosmos).
Blangkon merupakan isyarat jagad gede karena nilai-nilai transendentalnya. Sedangkan kepala yang ditumpanginya merupakan isyarat jagad alit. Ini terkait dengan tugas manusia sebagai khalifatullah fi al-ardi yang membutuhkan kekuatan Tuhan. Karena itu, agar manusia mampu melaksanakan tugasnya dibutuhkan kekuatan Tuhan yang disimbolkan dengan blangkon. Setelah manusia mendapat kekuatan tersebut, resmilah ia sebagai khalifatullah fi al-ardi yang tugasnya mengurus alam sesisinya.
Maka tak heran jika zaman dahulu orang-orang Jawa banyak yang memakai blangkon karena mereka sadar bahwa mereka selain sebagai hamba Tuhan juga merupakan khalifah di bumi.
Berikut adalah perbedaan bentuk dan filosofi blangkon Jogja dan blangkon Solo
Minggu, 21 Agustus 2011
MERDEKA dari BELENGGU KEMISKINAN
Kemiskinan Dalam Kemerdekaan
Senin, 17 Agustus 2009 17:00 WIB
Oleh: H.S. Dillon
Topik: Pecinta Bangsa
Merdeka bagi Bung Karno adalah political independence atau politieke onafhankelijkheid. Akan tetapi, menyadari bahwa diperlukan perjalanan panjang guna mewujudkan ‘Pernyataan' kemerdekaan politik menjadi sebuah ‘Kenyataan' kehidupan Bangsa, Proklamator mengibaratkan "merdeka" atau "kemerdekaan" itu sebagai sebuah jembatan emas. Dalam bahasa yang lebih lugas Bung Karno menggambarkan proses yang harus dilalui dalam perjalanan panjang tersebut: "Di dalam Indonesia Merdeka itulah kita memerdekakan rakyat kita! Di dalam Indonesia Merdeka itulah kita memerdekakan hatinya bangsa kita!" (Sukarno, 1 Juni 1945)
Pernyataan terakhir ini merefleksikan kesadaran Pendiri Republik mengenai kisah tragik kehidupan rakyat yang terjajah selama 350 tahun sebagai korban nafsu akumulasi kolonialisme dan imperialisme. Oleh karenanya, pernyataan memerdekakan rakyat dan memerdekakan hatinya bangsa itu mengandung makna dan sekaligus kewajiban memerdekakan segenap kehidupan rakyat Indonesia baik secara jasmani maupun rohani, termasuk dari belenggu rendah-diri seperti inlander. Anak kalimat pada alenia pertama Pembukaan UUD 1945 yang berbunyi: "..... maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan", semakin menegaskan bahwa tidak tersedia ruang bagi kelompok yang mewarisi nafsu akumulasi kolonialisme dalam tubuh bangsa Indonesia merdeka.
Sedari awal perjalanan Republik, sudah diupayakan meningkatkan posisi tawar para buruh-tani dan meredistribukan lahan kepada petani gurem, dengan membentuk Komite Agraria pada tahun 1948. Akan tetapi, kendati aset penjajah sempat dinasionalisasi, kelompok penikmat ketimpangan berhasil menghalangi implementasi UU Pokok Bagi Hasil dan UU Pokok Agraria. Puluhan tahun kemudian, terkesan bahwa Presiden Suharto menyadari kesenjangan yang timbul sebagai akibat fundamentalisme pasar. Beliau mengumpulkan konglomerat di peternakan Tapos, dan mencoba menyakinkan mereka bahwa keadilan ekonomi akan lebih menjamin kesinambungan pembangunan. Akan tetapi, Frankenstein Konglomerat, yang menjadi kaya-raya semata-mata akibat berkolusi dengan pejabat Orde Baru, berhasil menggagalkan prakarsa penciptanya meredistribusikan 15 persen saham mereka kepada para buruh dan staffnya.
Bagaimana potret kehidupan rakyat dan bangsa Indonesia memasuki usia kemerdekaannya yang ke-64 tahun ini? Kendati selalu muncul angka yang menghibur, tetapi secara kasat mata kemiskinan masih terus saja melekat dalam kehidupan anak Bangsa, seperti para petani gurem, buruh tani, buruh pabrik, buruh nelayan, nelayan gurem, PKL, pengangguran, dan kaum terpinggirkan lainnya. Belum lagi banyaknya tersiar kisah nestapa seperti ayah yang menggendong jenazah bayinya kesana kemari, tiada kuasa menyewa sejengkal tanah untuk mengembalikan jasad bayi suci kepangkuan Ibu Pertiwi. Sementara itu, kegemerlapan kehidupan sekelompok warga Bangsa yang dirasuki nafsu akumulasi dan konsumsi berlomba-lomba menyaingi rekan sejawatnya di manca negara. Adegan seperti ini bukan saja menyilau kota-kota besar, tetapi disajikan keseluruh pelosok nusantara oleh media massa. Sukar untuk menampik tudingan bahwa perbuatan dan pembiaran kita turut melanggengkan ketidak-adilan dan kemiskinan. Padahal, pada tahun 2001 seorang pakar menaksir bahwa hanya 5 persen dari pendapatan 20 persen kelompok warga-negara terkaya kita sudah akan cukup untuk menghapus kemiskinan di nusantara.
Kendati masa transisi pasca pengorbanan mahasiswa mengakhiri kekuasaan otoriter secara simbolis dijuluki ‘reformasi', tetapi masih belum juga timbul kesadaran bahwa realitas kemiskinan sebagian besar rakyat itu merupakan akibat ketidak-adilan dari sistem yang melingkarinya selama ini. Sekitar 160 juta rakyat, atau 80 persen dari keseluruhan rakyat Indonesia masih hidup di perdesaan. Turun-temurun mereka terpaksa berjuang mempertahankan hidup menghadapi berbagai matra ketidak-adilan sosial. Tidaklah mengherankan manakala lebih dari 70 per sen warga miskin berada diperdesaan, dan lapisan bawah di perkotaan ditempati mereka yang tergusur derita dari perdesaan.
Kesimpulan ini diperkuat oleh catatan jurnalis harian termuka ibukota, Ahmad Arif, yang menyusun laporan ekspedisi Jalan Raya Pos, 200 Tahun Pengisapan sekitar setahun yang lalu:
Dalam tulisan Peter Boomgaard (Children of the Colonial State, Amsterdam, 1989), citra Jawa awal abad ke-19 adalah kemiskinan dan kemandekan. Pulau ini dihuni jutaan petani yang harus hidup dari petak-petak tanah kecil dan jutaan kuli yang berusaha untuk bisa hidup di perkotaan yang padat penduduknya. Dua ratus tahun kemudian, gambaran suram itu ternyata tak beranjak pergi.
Pelajaran yang sepantasnya ditarik dari kenyataan getir ‘Kemiskinan dalam Kemerdekaan' ini adalah perlunya kita meninggalkan paradigma pembangunan tidak-manusiawi trickle-down. Paradigma ini menghalalkan disitanya sebahagian besar hasil pembangunan oleh mereka yang sudah mapan, dengan hanya sebahagian kecil yang ‘diteteskan' kepada majoritas rakyat. Ini hanya mungkin berlangsung dalam keadaan rakyat tidak berdaya; dengan perkataan lain, kemiskinan rakyat kita itu bersifat struktural, ditandai oleh penyebaran kekayaan dan kekuasaan yang sangat tidak merata!
Sudah saatnya menggunakan paradigma pembangunan yang mengutamakan pemerataan dan keadilan sosial, sebagaimana yang selalu saya sebut dengan paradigma People-driven Development, atauPembangunan yang Diarahkan Rakyat. Strategi pembangunan dengan sendirinya menjadi pertumbuhan-melalui-pemerataan, atau growth through equity. Untuk mengoperasionalkan strategi ini menanggulangi semua matra kemiskinan, dibutuhkan pendayagunaan secara sinergis empat perangkat kebijakan, yaitu modal, jangkauan, penghasilan, dan suara (assets, access, income, and voice). Dalam kaitan ini Reforma Agraria, terutama redistribusi tanah bagi rakyat dan memperluas jangkauan terhadap kredit, merupakan landaasn kokoh upaya meningkatkan pendapatan dan memperkuat suara rakyat yang selama ini dibungkam.
Terbentuknya keseimbangun baru pemilikan kekayaan dan kekuasaan politik dalam masyarakat, akan dapat sekaligus memperkokoh kewarga-negaraan. Dengan memperkuat peran-serta dalam proses pengambilan keputusan yang bertalian dengan masa depannya secara bersama, diharapkan warga-negara akan mampu membangun kohesi sosial dan meraih legitimasi politis guna mengalahkan kelompok kepentingan. Warga-negara yang semakin berdaya akan menjadi kekuatan-utama mendorong transformasi yang dibutuhkan untuk memutuskan pewarisan kemiskinan, sebagai prasyarat terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat.
Pilihannya sudah jelas, tidak ada jalan tengah! Apakah melanjutkan budaya membohongi diri dengan terus menafikan bahwa ‘Kenyataan' yang dihadapi rakyat yang sudah turn-temurun terus miskin barulah ‘Pribumisasi Penjajahan', atau mengetuk nurani bertekad sungguh-sungguh memenuhi janji ‘Bagimu Negeri, Jiwa-Raga Kami'? Mendengarkan nurani akan menuntun kita menaklukkan nafsu akumulasi dan konsumsi, melintasi segala perbedaan guna bersama-sama mengerahkan seluruh daya dan dana untuk membantu upaya saudara-saudara kita merebut kemerdekaan seutuhnya dari belenggu kemiskinan. Sejarah perjalanan Bangsa akan mencatat pilihan kita.
HS Dillon,
Kepala Badan Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Nasional, 2001
Pernyataan terakhir ini merefleksikan kesadaran Pendiri Republik mengenai kisah tragik kehidupan rakyat yang terjajah selama 350 tahun sebagai korban nafsu akumulasi kolonialisme dan imperialisme. Oleh karenanya, pernyataan memerdekakan rakyat dan memerdekakan hatinya bangsa itu mengandung makna dan sekaligus kewajiban memerdekakan segenap kehidupan rakyat Indonesia baik secara jasmani maupun rohani, termasuk dari belenggu rendah-diri seperti inlander. Anak kalimat pada alenia pertama Pembukaan UUD 1945 yang berbunyi: "..... maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan", semakin menegaskan bahwa tidak tersedia ruang bagi kelompok yang mewarisi nafsu akumulasi kolonialisme dalam tubuh bangsa Indonesia merdeka.
Sedari awal perjalanan Republik, sudah diupayakan meningkatkan posisi tawar para buruh-tani dan meredistribukan lahan kepada petani gurem, dengan membentuk Komite Agraria pada tahun 1948. Akan tetapi, kendati aset penjajah sempat dinasionalisasi, kelompok penikmat ketimpangan berhasil menghalangi implementasi UU Pokok Bagi Hasil dan UU Pokok Agraria. Puluhan tahun kemudian, terkesan bahwa Presiden Suharto menyadari kesenjangan yang timbul sebagai akibat fundamentalisme pasar. Beliau mengumpulkan konglomerat di peternakan Tapos, dan mencoba menyakinkan mereka bahwa keadilan ekonomi akan lebih menjamin kesinambungan pembangunan. Akan tetapi, Frankenstein Konglomerat, yang menjadi kaya-raya semata-mata akibat berkolusi dengan pejabat Orde Baru, berhasil menggagalkan prakarsa penciptanya meredistribusikan 15 persen saham mereka kepada para buruh dan staffnya.
Bagaimana potret kehidupan rakyat dan bangsa Indonesia memasuki usia kemerdekaannya yang ke-64 tahun ini? Kendati selalu muncul angka yang menghibur, tetapi secara kasat mata kemiskinan masih terus saja melekat dalam kehidupan anak Bangsa, seperti para petani gurem, buruh tani, buruh pabrik, buruh nelayan, nelayan gurem, PKL, pengangguran, dan kaum terpinggirkan lainnya. Belum lagi banyaknya tersiar kisah nestapa seperti ayah yang menggendong jenazah bayinya kesana kemari, tiada kuasa menyewa sejengkal tanah untuk mengembalikan jasad bayi suci kepangkuan Ibu Pertiwi. Sementara itu, kegemerlapan kehidupan sekelompok warga Bangsa yang dirasuki nafsu akumulasi dan konsumsi berlomba-lomba menyaingi rekan sejawatnya di manca negara. Adegan seperti ini bukan saja menyilau kota-kota besar, tetapi disajikan keseluruh pelosok nusantara oleh media massa. Sukar untuk menampik tudingan bahwa perbuatan dan pembiaran kita turut melanggengkan ketidak-adilan dan kemiskinan. Padahal, pada tahun 2001 seorang pakar menaksir bahwa hanya 5 persen dari pendapatan 20 persen kelompok warga-negara terkaya kita sudah akan cukup untuk menghapus kemiskinan di nusantara.
Kendati masa transisi pasca pengorbanan mahasiswa mengakhiri kekuasaan otoriter secara simbolis dijuluki ‘reformasi', tetapi masih belum juga timbul kesadaran bahwa realitas kemiskinan sebagian besar rakyat itu merupakan akibat ketidak-adilan dari sistem yang melingkarinya selama ini. Sekitar 160 juta rakyat, atau 80 persen dari keseluruhan rakyat Indonesia masih hidup di perdesaan. Turun-temurun mereka terpaksa berjuang mempertahankan hidup menghadapi berbagai matra ketidak-adilan sosial. Tidaklah mengherankan manakala lebih dari 70 per sen warga miskin berada diperdesaan, dan lapisan bawah di perkotaan ditempati mereka yang tergusur derita dari perdesaan.
Kesimpulan ini diperkuat oleh catatan jurnalis harian termuka ibukota, Ahmad Arif, yang menyusun laporan ekspedisi Jalan Raya Pos, 200 Tahun Pengisapan sekitar setahun yang lalu:
Dalam tulisan Peter Boomgaard (Children of the Colonial State, Amsterdam, 1989), citra Jawa awal abad ke-19 adalah kemiskinan dan kemandekan. Pulau ini dihuni jutaan petani yang harus hidup dari petak-petak tanah kecil dan jutaan kuli yang berusaha untuk bisa hidup di perkotaan yang padat penduduknya. Dua ratus tahun kemudian, gambaran suram itu ternyata tak beranjak pergi.
Pelajaran yang sepantasnya ditarik dari kenyataan getir ‘Kemiskinan dalam Kemerdekaan' ini adalah perlunya kita meninggalkan paradigma pembangunan tidak-manusiawi trickle-down. Paradigma ini menghalalkan disitanya sebahagian besar hasil pembangunan oleh mereka yang sudah mapan, dengan hanya sebahagian kecil yang ‘diteteskan' kepada majoritas rakyat. Ini hanya mungkin berlangsung dalam keadaan rakyat tidak berdaya; dengan perkataan lain, kemiskinan rakyat kita itu bersifat struktural, ditandai oleh penyebaran kekayaan dan kekuasaan yang sangat tidak merata!
Sudah saatnya menggunakan paradigma pembangunan yang mengutamakan pemerataan dan keadilan sosial, sebagaimana yang selalu saya sebut dengan paradigma People-driven Development, atauPembangunan yang Diarahkan Rakyat. Strategi pembangunan dengan sendirinya menjadi pertumbuhan-melalui-pemerataan, atau growth through equity. Untuk mengoperasionalkan strategi ini menanggulangi semua matra kemiskinan, dibutuhkan pendayagunaan secara sinergis empat perangkat kebijakan, yaitu modal, jangkauan, penghasilan, dan suara (assets, access, income, and voice). Dalam kaitan ini Reforma Agraria, terutama redistribusi tanah bagi rakyat dan memperluas jangkauan terhadap kredit, merupakan landaasn kokoh upaya meningkatkan pendapatan dan memperkuat suara rakyat yang selama ini dibungkam.
Terbentuknya keseimbangun baru pemilikan kekayaan dan kekuasaan politik dalam masyarakat, akan dapat sekaligus memperkokoh kewarga-negaraan. Dengan memperkuat peran-serta dalam proses pengambilan keputusan yang bertalian dengan masa depannya secara bersama, diharapkan warga-negara akan mampu membangun kohesi sosial dan meraih legitimasi politis guna mengalahkan kelompok kepentingan. Warga-negara yang semakin berdaya akan menjadi kekuatan-utama mendorong transformasi yang dibutuhkan untuk memutuskan pewarisan kemiskinan, sebagai prasyarat terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat.
Pilihannya sudah jelas, tidak ada jalan tengah! Apakah melanjutkan budaya membohongi diri dengan terus menafikan bahwa ‘Kenyataan' yang dihadapi rakyat yang sudah turn-temurun terus miskin barulah ‘Pribumisasi Penjajahan', atau mengetuk nurani bertekad sungguh-sungguh memenuhi janji ‘Bagimu Negeri, Jiwa-Raga Kami'? Mendengarkan nurani akan menuntun kita menaklukkan nafsu akumulasi dan konsumsi, melintasi segala perbedaan guna bersama-sama mengerahkan seluruh daya dan dana untuk membantu upaya saudara-saudara kita merebut kemerdekaan seutuhnya dari belenggu kemiskinan. Sejarah perjalanan Bangsa akan mencatat pilihan kita.
HS Dillon,
Kepala Badan Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Nasional, 2001
Kamis, 04 Agustus 2011
SUKA BOHONG...!!!!
Lawak nih... MAS BROW,percakapan yang sangat lucu
Cewek: Mas kerja dimana?
Cowok: Saya pemilik beberapa hotel di Jakarta dan Bali.
Cewek: (woow konglomerat nih !!) Mas tinggal dimana?
Cowok: Di pondok indah golf view.
Cewek: (woow kereeen.. perumahan orang2 “the have”) Pasti gede rumahnya ya?
Cowok: Cuma 3000 m2
Cewek: Mas pasti mobilnya banyak ya?
Cowok: Cuma 5, ferrari, audi, mercy, bmw sama range rover.
Cewek: (ini cowo idamanku !!) Mas punya istri?
Cowok: Belum…
Cewek: (wah enak juga jadi bini nya) Mas merokok?
Cowok: Tidak.
Cewek: (Wah sehat nih) Mas suka minuman keras?
Cowok: Tidak
Cewek: (wow cool) Mas suka judi?
Cowok: Tidak.
Cewek: (wah halal nih rejekinya) Mas suka main perempuan tau dugem gitu?
Cowok: Tidak.
Cewek: (sholeh banget nih cowo) Hobbinya mas apa?
Cowok: bo’oooooong.
Ck.ck.ckc..wkw.wkw..wkwkwkwk
Jumat, 29 Juli 2011
MENEBAR MANFAAT UNTUK SESAMA 4132 H نشر فوائد للشعب
ALL Sahabat FB ,bloger,Twiter yg Budiman ...
Sy bukanlah Manusia yg SEMPURNA, ( pasti sdh tahu ) juga bukan yang SELALU BENAR,di SETIAP LANGKAH,UCAPAN TULISAN.
BIARPUN HIDUPKU TAK SEINDAH
PELANGI,tp saya Bahagia,bersyukur bisa terlahir NORMAL,sekalipun dari KELUARGA biasa,biasa saja & WALAUPUN ADA YANG NGGAK MENYUKAI SAYA namun TAK SEDIKITPUN, saya membenci semua,TAKDIR MANUSIA TAK ADA TANG TAHU,SAYA INGIN SMU MEMBACA TULISAN INI,JUGA BISA MEMAAFKAN SGALA KEKURANGAN KESALAHAN SY BAIK YG SENGAJA ATAU / TIDAK
" SELAMAT MENYAMBUT BULAN SUCI RAMADAHAN...MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN "
BAGI YANG MENJALANKAN
saking Harto sekeluarga
Minggu, 24 Juli 2011
" CIRI CIRI-CIRI WANITA SUKA SELINGKUH.....!!!! " ????MENURUT KITAB PRIMBUN
Dalam kitab Primbon yang menerangkan katuranggan manusia berdasarkan bentuk atau ciri fisik yang berkaitan dengan watak serta perilaku yang bersangkutan,banyak sekali perihal yang menjelaskan tentang katuranggan manusia berdasarkan hitungan hari lahir serta tahun kelahiran,benar atau tidaknya semua yang di sebutkan dalam hal bentuk tubuh atau ciri fisik yang berkaitan dengan watak serta kehidupan seseorang,tentu perlu kajian lebih dalam,namun para tetua jaman dahulu tidak akan mungkin asal tebak tentunya sudah mengadakan riset yang kala itu dengan cara olah batin serta mempelajarinya bertahun-tahun.Menurut keterangan Primbon tentang katuranggan wanita yang suka selingkuh atau kawin cerai ada beberapa criteria sebagai berikut :
1. Pada tengah-tengah jidatnya sedikit nonong,telinga menghadap agak kedepan,matanya terlihat seperti Habis bangun tidur,tipe wanita demikian biasanya suka berselingkuh atau kawin cerai hingga tiga kali.
2. Raut wajahnya sedikit memerah, tepian atas mata dan bawah berwarna hitam. Hidung bagian atasnya Ada garis-garis kecil, wanita demikian tidak punya rasa cinta terhadap suami,tetapi suka sekali berselingkuh pada lelaki yang lebih tua dari suaminya.
3. Jika tertawa tertunduk kepalanya,bicaranya ketus,kalau bicara lidahnya keluar di jilatkan ke mulut,wanita demikian bangga sekali jika gonta-ganti pria, ia sama sekali tak punya rasa malu untuk urusan kawin cerai sepanjang hidupnya.
4. Kulit raut wajah tampak sedikit kehijau-hijauan,dari ujung hidung sampai jidat tampak urat kebiru-biru biruan ,mata ciut gelap suka berkedip,wanita jenis ini gampang sekali jatuh cinta bahkan jika sudah jatuh cinta maka tanpa perasaan bisa mencelakakan suaminya.
5. Mata besar dan lebar bak mata ikan mas,Hati-hati terhadap tipe wanita ini ,dengan perselingkuhannya yang tak pernah puas dengan berbagai jenis pria,sehingga berdampak kematian lebih dulu bagi suaminya.
6. Kedua pipinya tembem gembil,suaranya seperti laki-laki,wanita tipe ini sekalipun biasa menjalani perselingkuhan dengan pria yang lebih muda,ia gemar melakukan kawin cerai.
7. Jidatnya nonong sekali namun hanya tengahnya jidat, lancip daun telinganya dan mungil berbalik menghadap kedepan ,wanita ciri demikian suka sekali menikmati perselingkuhan dan terus saja berkeinginan kawin cerai demi mendapatkan kepuasan birahinya.
sumber : ATM ( amati tiru Modifikasi dari :http://nagapasha.blogspot.com
Langganan:
Postingan (Atom)